Chat with us, powered by LiveChat

Minggu, 30 April 2023

Tentang Museum Geologi Bandung by qiuslot88

Museum Geologi (Musieum Géologi Bandung) didirikan pada 16 Mei 1929.

Museum ini direnovasi dengan dana bantuan dari JICA (Japan International Cooperation Agency).



Setelah mengalami renovasi, Museum Geologi dibuka kembali dan diresmikan oleh Wakil Presiden RI, Megawati Soekarnoputri pada 23 Agustus 2000.

Sebagai monumen bersejarah, museum yang berada di bawah perlindungan pemerintah dan merupakan peninggalan nasional.

Di museum ini, tersimpan dan mengelola banyak materi geologi, seperti fosil, batuan, dan mineral. Semua materi tersebut dikumpulkan selama kerja lapangan di Indonesia sejak tahun 1850.

Sebagai akibat dari kekalahan Belanda dari Jepang pada perang dunia II, keberadaan Dienst van den Mijnbouw berakhir.



Letjen. H. Ter Poorten (Panglima Tentara Sekutu di Hindia Belanda) atas nama Pemerintah Kolonial Belanda menyerahkan kekuasaan teritorial Indonesia kepada Letjen. H. Imamura (Panglima Tentara Jepang) pada 1942.

Penyerahan itu dilakukan di Kalijati, Subang.

Dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia, Gedung Geologisch Laboratorium berpindah kepengurusannya dan diberi nama Kogyo Zimusho.

Setahun kemudian, berganti nama menjadi Chishitsu Chosacho.

Selama masa pendudukan Jepang, pasukan Jepang mendidik dan melatih para pemuda Indonesia untuk menjadi PETA (Pembela Tanah Air) dan HEIHO (Pasukan Pembantu Bala Tentara Jepang pada Perang Dunia II).



Laporan hasil kegiatan pada masa itu tidak banyak yang ditemukan, karena banyak dokumen (termasuk laporan hasil penyelidikan) yang dibumihanguskan ketika pasukan Jepang mengalami kekalahan pada awal tahun 1945.

Setelah Indonesia merdeka pada 1945, pengelolaan Museum Geologi berada dibawah Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG/1945—1950).

Pada 19 September 1945, pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat dan Inggris yang diboncengi oleh Netherlands Indiës Civil Administration (NICA) tiba di Indonesia.

Mereka mendarat di Tanjungpriuk, Jakarta.

Di Bandung, mereka berusaha menguasai kembali kantor PDTG yang sudah dikuasai oleh para pemerintah Indonesia.

Tekanan yang dilancarkan oleh pasukan Belanda memaksa kantor PDTG dipindahkan ke Jl. Braga No. 3 dan No. 8, Bandung, pada 12 Desember 1945.

Pemindahan kantor PDTG terdorong oleh gugurnya seorang pengemudi bernama Sakiman dalam rangka perjuangan mempertahankan kantor PDTG.

Saat itu Tentara Republik Indonesia Divisi III Siliwangi mendirikan Bagian Tambang, di mana berbagai kebutuhan kemudian diambil dari PDTG.

Setelah kantor di Rembrandt Straat ditinggalkan oleh pegawai PDTG, pasukan Belanda mendirikan lagi kantor yang bernama Geologische Dienst di tempat yang sama.

Akibat pertempuran yang terjadi di berbagai wilayah, maka selama kurun waktu 4 tahun sejak Desember 1945 sampai dengan Desember 1949 kantor PDTG terus mengalami pemindahan dari satu tempat ke tempat lainnya.

Pemerintah Indonesia berusaha menyelamatkan dokumen-dokumen hasil penelitian geologi. Hal ini menyebabkan dokumen tersebut harus berpindah tempat dari Bandung, ke Tasikmalaya, Solo, Magelang, Yogyakarta, dan baru pada tahun 1950 dokumen-dokumen tersebut dapat dikembalikan ke Bandung.

Dalam usaha penyelamatan dokumen tersebut, pada 7 Mei 1949, Kepala Pusat Jawatan Tambang dan Geologi, Arie Frederic Lasut, diculik dan dibunuh oleh tentara Belanda.

Ia gugur sebagai kusuma bangsa di Desa Pakem, Yogyakarta.

Setelah kembali ke Bandung, Museum Geologi mulai mendapat perhatian dari pemerintah Republik Indonesia, yang dibuktikan oleh kunjungan Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno ke museum Geologi pada 1960.

Seiring dengan perkembangan zaman, pada 1999 Museum Geologi mendapat bantuan dari Pemerintah Jepang senilai 754,5 juta Yen untuk direnovasi.

Setelah ditutup selama satu tahun, Museum Geologi dibuka kembali pada 20 Agustus 2000.

Pembukaannya diresmikan oleh Wakil Presiden RI pada waktu itu, Megawati Soekarnoputri yang didampingi oleh Menteri Pertambangan dan Energi Susilo Bambang Yudhoyono.

Dengan penataan yang baru ini peragaan Museum Geologi terbagi menjadi 3 ruangan yang meliputi Sejarah Kehidupan, Geologi Indonesia, serta Geologi dan Kehidupan Manusia.

Sedangkan untuk koleksi dokumentasi, tersedia sarana penyimpan koleksi yang lebih memadai. Diharapkan pengelolaan contoh koleksi di Museum Geologi akan dapat lebih mudah diakses oleh pengguna baik peneliti maupun grup industri.

Sejak 2002, Museum Geologi yang statusnya merupakan Seksi Museum Geologi, telah dinaikkan menjadi UPT Museum Geologi, kemudian dibentuk 2 seksi dan 1 Subbag yaitu Seksi Peragaan, Seksi Dokumentasi, dan Subbag Tatausaha.

Guna lebih mengoptimalkan peranannya sebagai lembaga yang memasyarakatkan ilmu geologi, Museum Geologi juga mengadakan kegiatan, antara lain penyuluhan, pameran, seminar, serta kegiatan survei penelitian untuk pengembangan peragaan dan dokumentasi koleksi.

Pergeseran fungsi museum, seirama dengan kemajuan teknologi, menjadikan Museum Geologi sebagai tempat pendidikan luar sekolah yang berkaitan dengan bumi dan usaha pelestariannya.

Tempat orang melakukan kajian awal sebelum penelitian lapangan.

Di mana Museum Geologi sebagai pusat informasi ilmu kebumian yang menggambarkan keadaan geologi bumi Indonesia dalam bentuk kumpulan peraga. Objek geowisata yang menarik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Cikarang by qiuslot88

Cikarang adalah ibu kota dari Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, Indonesia . Daerah Cikarang meliputi wilayah kecamatan Cikarang Pusat ...